Rabu, 21 Desember 2011

Wanita dalam Perspektif Islam

A. PENDAHULUAN
Wanita adalah sosok yang kerap kali menjadi perbincangan yang tiada habisnya. Sesuatu yang menyangkut wanita akan terus mendapat perhatian untuk dibicarakan. Bagi sebagian orang, wanita adalah masyarakat kelas dua. Ia tidak berhak untuk berpendapat bahkan mengurus dirinya sendiri. Semuanya diatur oleh laki-laki. Di satu sisi ada yang begitu memuja wanita. Hidup seakan mati tanpanya, segala yang dilakukannya adalah untuk wanita.
Disisi lain banyak para filosofis menganggap wanita sebagai biang keladi terjadinya berbagai bentuk bencana dan tindak kriminalitas di dunia. Negara hancur karena wanita. Seorang pangeran bahkan ada yang rela menanggalkan mahkotanya kerajaannya karena wanita. Pertikaian muncul akibat perebutan wanita. Bahkan muncul permasalahan dari kaum agama bahwa wanitalah yang menyebabkan Nabi Adam as. turun ke bumi. Wanita dianggap penyebab terjadinya dosa.
Satu hal yang perlu kita renungi bersama adalah baik kelompok yang dalam asumsinya memuja maupun yang membenci wanita, terkadang melakukan tindakan eksploitasi terhadap keberadaan wanita. Seringkali wanita tidak menyadari bahwa apakah dirinya dieksploitasi (dimanfaatkan) atau dimuliakan. Oleh karena itulah setiap muslim perlu mengetahui bagaimana Islam memperlakukan wanita. Berdasarkan lembaran sejarah, kita mengetahui bagaimana wanita dapat memiliki dirinya sendiri dan menyadari keberadaannya tidak hanya sebagai saudara dari laki-laki namun yang terpenting adalah hamba Tuhan yang sama-sama sebagai makhluk Tuhan bersama laki-laki.
Islamlah yang membebaskan wanita dari anggapan buruk terhina memiliki anak perempuan. Kisah Umar bin Khatab menjelaskan bagaimana budaya Arab jahiliyah terhadap wanita, sehingga ia rela menguburkan anak perempuannya agar tidak mendapat malu. Pada saat itu wanita menjadi harta warisan bila ayahnya wafat. Islam pulalah yang mengajarkan kedua orang tua untuk merawat dan mendidik anak perempuannya bila keduanya ingin masuk syurga.
Dalam Islam, wanita bukanlah musuh atau lawan kaum laki-laki. Sebaliknya wanita adalah bagian dari laki-laki demikian pula laki-laki adalah bagian dari wanita, keduanya bersifat saling melengkapi. (QS. Ali Imran (3) : 195).
Dalam Islam tidak pernah dibayangkan adanya pengurangan hak wanita atau penzhaliman wanita demi kepentingan laki-laki karena Islam adalah syariat yang diturunkan untuk laki-laki dan perempuan. Akan tetapi ada beberapa pemikiran keliru tentang wanita yang menyelusup ke dalam benak sekelompok umat Islam sehingga mereka senantiasa memiliki persepsi negatif terhadap watak dan peran wanita. Salah satu contohnya adalah perlarangan wanita keluar rumah untuk menuntut ilmu dan mendalami agama dengan alasan ada orang tua dan suami yang yang berhak dan berkewajiban mendidik serta memberikan pelajaran. Akibatnya mereka menghambat wanita dari pancaran ilmu pengetahuan dan memaksanya hidup dalam kegelapan dan kebodohan.

B. HAKIKAT PENCIPTAAN PEREMPUAN DALAM ISLAM
Seorang pria, ketika berbicara tentang seorang wanita pastilah yg terbersit dalam pikirannya adalah sebuah keindahan untuk kemudian, pikirannya akan dipenuhi oleh hal-hal yang bisa jadi bersifat positif ataupun negatif. Tulisan ini tidaklah ingin membahas hal-hal yang bersifat positif ataupun negatiif tersebut, tapi lebih kepada hakikat penciptaan wanita yang sering menjadi perdebatan yang terkadang membawa dalih-dalih agama yang tidak dapat dibenarkan. Sebagian mengatakan bahwa penciptaan tersebut hanya untuk menjadi “sangkar madu” bagi pria dengan nada yang amat melecehkan tapi lebih banyak yang mengatakan bahwa hakikat penciptaan itu pada dasarnya adalah sama. Pada awalnya pria telah diciptakan untuk kemudian Allah Azza wa Jalla menciptakan seorang wanita untuk menjadi pasangan hidupnya.
Hal ini dijelaskan pada QS An Nisa [4]:1, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan [mempergunakan] nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan [peliharalah] hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
Di ayat pertama surah bernama an-Nisa’ (wanita) ini, Allah Azza wa Jalla menjelaskan dengan bahasa yang sangat indah bahwa Hawa (adalah nama popular yang digunakan untuk pasangan hidup Adam as walau tidak berdasar kepada riwayat yang shahih) diciptakan dari ‘diri’ pasangannya sendiri yaitu Adam as. Dan dari keduanya lah Allah memperkembangbiakkan manusia dengan jalan reproduksi hingga manusia yang ada pada zaman kini.
Yang dapat kita pahami dari pemakaian kalimat “DAN MENCIPTAKAN DARINYA PASANGANNYA” pada ayat diatas adalah adanya sesuatu bagian tubuh dari Adam as yang menjadi sumber penciptaan bagi Hawa. Adalah sebuah perdebatan hingga kini bagian tubuh mana yang menjadi sumber penciptaan Hawa tersebut.
Satu hal yang dapat kita jadikan pemahaman dari kalimat “DAN MENCIPTAKAN DARINYA PASANGANNYA” bahwa seorang pria tertarik kepada seorang wanita lebih kepada melihat sesuatu bagian yang pernah ‘hilang’ dari dirinya sehingga adanya keinginan untuk memiliki ataupun menjadikannya pasangan hidup. Tapi ketika seorang wanita tertarik kepada seorang pria, maka yang terbersit adalah keinginan untuk mendapatkan perlindungan karena ia merasakan dirinya adalah bagian dari diri pasangannya itu. Dalam hal ini, Allah Azza wa Jalla juga menjelaskannya pada QS Ar Rum [30]:21.: “…agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”
'Cenderung' adalah sebuah bentuk perasaan seorang pria yang selalu tertuju kepada seorang wanita sebagai pasangan hidupnya agar dapat berbagi dalam segala hal, sedangkan 'rasa tentram' lebih kepada perasaan seorang wanita untuk memperoleh perlindungan dari pasangannya. Dalam hal ini yang perlu kita pahami adalah penggunaan kata ‘ajwaj’ yang diterjemahkan dengan istri-istri adalah kurang tepat karena kata itu lebih mengandung arti kepada ‘pasangan hidup’ (Baca tafsir Al Misbah oleh Dr Quraish Shihab dan Tafsir Ibnu Katsir dalam menafsirkan QS Ar Rum ayat ke 21 diatas)
Dalam beberapa penafsiran dikemukakan bahwa Hawa tercipta dari sebuah tulang rusuk Adam as yang bengkok dan pandangan ini diperkuat pula oleh sebuah hadish Rasulullah Saw yang bersabda, “Nasihatilah istrimu dengan baik, sesungguhnya wanita itu berasal dari tulang yang bengkok. Dan yang paling bengkok adalah bagian yang atas. Apabila kamu paksa untuk meluruskannya ia akan patah. Dan apabila kamu membiarkannya, maka ia akan bengkok selamanya. Nasihatilah ia dengan cara yang baik.” (HR At Tirmidzi)
Bagi ulama-ulama terdahulu, hadish ini lebih dipahami dalam arti harfiah (sebenarnya), namun tidak sedikit ulama kontemporer memahaminya dalam arti metafora. Saya sebagai penulis lebih cenderung untuk mengartikannya secara metafora untuk mengingatkan betapa sulitnya posisi seorang suami yang selalu harus mengingatkan istrinya dengan cara yang bijaksana. Penekanan hadish ini terletak pada kedudukan suami yang terus menerus harus mengingatkan dan mengarahkan istrinya untuk menjadikan mereka nafs (diri yang satu) dalam cita, cinta dan falsafah hidup dibawah naungan ridha Allah. Membiarkan sifat-sifat buruk sang istri bagaikan membiarkan tulang yang bengkok akan tetap bengkok dan merubahnya secara radikal diibaratkan bagai tulang yang dipaksa untuk diluruskan dalam waktu yang singkat dan akan mengakibatkan patah.
Dalam hal Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam as. Hal ini tidak berasal dari riwayat yang jelas. Menurut ahli Tafsir Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsirnya Al Manar, ide awal yang menyatakan hal ini adalah timbul dari apa yang ada dalam kitab perjanjian lama (Kitab Kejadian II: 21-22) yang menyatakan bahwa, “Ketika Adam tidur lelap, maka diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkan-Nya pula tempat itu dengan daging. Maka dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam itu, maka dibuat Tuhan seorang perempuan.” Rasyid Ridha menyimpulkan bahwa “Seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam perjanjian lama seperti ini, niscaya pendapat yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah terlintas dalam benak seorang muslim.”
Jadi tidaklah berdasar kepada sesuatu yang dapat menjadi pegangan jika hakikat penciptaan wanita itu adalah tulang rusuk adam ataupun hanya sekedar menjadi sebuah pelengkap bagi seorang pria yang merupakan sangkar madu. Justru Al Quran pada QS An Nisa’ ayat 1 dengan bahasanya yang begitu indah dapat menjelaskan bahwa hakikat penciptaan itu pada dasarnya adalah untuk saling melengkapi. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka mengabdi kepada-Ku” (QS Adz Dzaariyaat [51]:56)

C. KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM
D. KETELADANAN TOKOH MUSLIMAH DALAM ISLAM
“Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia. Mereka adalah Asiah binti Muzahim, isteri Firaun; Maryam binti Imran, ibunda Isa; Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah Saw, dan Fatimah binti Muhammad” (HR. Bukhari)
UMAT Islam tidak kekurangan sosok teladan untuk menjalani kehidupan yang diridhai Allah Swt. Demikian halnya kaum Muslimah. Sejarah Islam mencatat dengan tinta emas banyak tokoh wanita Muslimah yang menjadi sosok teladan bagi kaum Muslimah sepanjang zaman. Empat di antaranya menempati posisi teratas sebagaimana disabdakan Nabi Saw di atas.
Keempat wanita itu adalah Asyiah binti Muzahim (isteri Fir’aun), Maryam binti Imran (ibunda Nabi Isa a.s.), Khadijah binti Khuwailid (istri pertama Rasulullah Saw), dan Fatimah binti Muhammad (putri kesayangan Nabi Saw).
SITI AISYAH
Siti Asyiah adalah simbol teladan bagi wanita beriman yang tetap mempertahankan keimanannya kepada Allah (istiqomah), meskipun menjadi istri seorang yang tidak beriman kepada Allah Swt (Fir’aun). Ini teladan bagi kaum Muslimah yang –karena kondisi yang “terpaksa”— harus menjadi istri seorang pria yang tidak saleh, bahkan tidak beriman sekalipun.
Kesabaran adalah kunci keberhasilan Asyiah menjadi salah satu “penghulu kaum wanita”. Meyakini Allah Swt selalu memberi yang terbaik dan pasti ada hikmah di balik semua peristiwa, termasuk yang “janggal sekalipun”, Aisyah ternyata ditakdirkan untuk menjadi istri Fir’aun dengan hikmah terbesarnya ia dipilih Allah Swt untuk menjadi “ibu asuh” Nabi Musa a.s. yang dipungutnya di sungai.
Cerita sejarah mungkin akan lain jika Asyiah tidak menjadi istri Fir’aun. Pasalnya, masa itu, semua bayi laki-laki dibunuh oleh rezim Fir’aun agar tidak muncul orang yang akan menghancurkan kekuasaan Fir’aun. Dengan izin Allah, ibunda Nabi Musa terpaksa dihanyutkan ke sungai sehingga calon nabi yang masih bayi itu ditemukan sekaligus diselamatkan oleh Asyiah.
SITI MARYAM
Siti Maryam memberi teladan pada sisi kesucian diri seorang wanita. Ia menjadi simbol wanita dalam ketaatan pada perintah Allah, ibadah, dan ketinggian darjat ketakwaan. Ia mengajarkan kepada setiap wanita, bahwa dengan menjaga kesucian atau kehormatan diri, seorang wanita akan diangkat tinggi-tinggi derajatnya oleh Allah Swt.
Berkat kesucian dan ketakwaannya, Maryam dipilih oleh Allah Swt untuk mengandung seorang bayi, calon nabi, tanpa harus bersuami. Allah Swt mengamanahkan langsung sang jabang bayi kepada rahim Maryam. Sinyal bagi kaum hawa, pemeliharaan kesucian dan ketakwaan akan dimuliakan oleh Allah Swt dengan mengangkat derajatnya.
SITI KHADIJAH
Siti Khadijah menjadi sosok teladan istri “mujahid dakwah” dalam menegakkan syi’ar Islam. Ia adalah istri setia yang tanpa mengenal lelah mendampingi suaminya, Nabi Muhammad, salam menegakkan panji-panji kebenaran Islam. Ia pun rela berkorban jiwa, raga, dan harta, juga rela menanggung berbagai risiko dan cobaan dalam menyebarkan risalah Islam yang diamanahkan pada sang suami tercinta (Rasulullah).
Khadijah memberikan sinyal, istri salehah selalu berada di belakang sang suami dalam menegakkan kebenaran, turut berkorban demi keberhasilan sebuah perjuangan di jalan Allah Swt. Ia menjadi teladan bagi kaum Muslimah dalam bersikap terhadap suami, khususnya dalam perjuangan sang suami.
SITI FATIMAH
Siti Fatimah menjadi teladan kaum Muslimah bagaimana sebagai seorang anak wanita bersikap kepada ayahnya dan seorang istri kepada sang suami. Ia adalah uswah (teladan) sebagai anak yang salehah, taat kepada bimbingan ayahanda, isteri setia dan taat kepada suaminya, serta ibu yang bijak di hadapan putra-putrinya.


1. Laki-laki dan wanita dari asal yang sama, QS. An Nisaa’ (4) : 1
2. Tanggung jawab kemanusiaan seorang wanita, QS. Ali Imran (3) : 195
3. Pembebasan wanita dari kezhaliman jahiliyah, QS. An Nahl (16) : 58-59
4. Pembebasan wanita dari pengharaman hal yang baik pada masa jahiliyah. Seringkali wanita diharamkan untuk memakan sesuatu atau memiliki sesuatu. Ketika Islam datang maka pengharaman itu digugurkan, sehingga wanita memperoleh hak yang sama mengenai hal ini, QS. Al An’aam (6) : 139
5. Pembebasan dari harta warisan dan dalam perkawinan, QS. An Nisaa’ (4) : 19
6. Pembebasan dari buruknya hubungan keluarga akibat perkawinan. Pada masa jahiliyah, wanita yang telah menikah dengan bapaknya dapat diturunkan kepada anak yang dilahirkannya sehingga akan menimbulkan kerancuan dan kehancuran dalam keluarga namun setelah Islam datang semua itu diharamkan, QS. An Nisaa’ (4) : 22-23
7. Penegasan tentang karakteristik wanita muslimah :
a. Wanita dan pria memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, QS. Al Lail (92) : 1-4
b. Menutup aurat
Bila kita mau merenungi dan mengambil hikmah dari perintah Allah kepada muslimah untuk menutup aurat pada dasarnya adalah menjaga dan melindungi wanita itu dari kemungkinan negatif dari pandangan manusia yang melihatnya serta menjaganya agar dapat aman beraktivitas, QS. An Nur (24) : 31
c. Mendapat balasan yang sama dengan laki-laki di akhirat, QS. Al Hadid (57) : 12
Referensi :
1. Kebebasan Wanita Jilid 1, DR. Yusuf Qordhowi dan Muhammad Al Ghazali
2. Jati Diri Wanita Muslimah, Musthofa Muhammad Thahhan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar